Jumat, 09 Desember 2011

makalah etos kerja dan enterpreneurship



Kata Pengantar


        Kami sebagai penulis memanjatkan puji beserta syukur ke hadirat Allah swt, karena atas berkat rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul “Membangun Keluarga yang Islami”.Adapun untuk penyusunan makalah ini dilakukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam.
         Sebagai umat muslim harus yakin bahwa berusaha dan bekerja itu merupakan kewajiban dalam hidupnya, karena dalam bekerja terdapat tujuan mulia, manfaat dan hikmah yang banyak. Seorangmuslim hendaknya sadar terhadap persoalan dunia yang dihadapinya kini, hari esok, dan hari akhirat kelak. Untuk itu perlu memahami kunci sukses menjalani kehidupan ini dengan berfikir cerdas, memilih jenis-jenis usaha yang diminati dan menguntungkan. Salah satunya dengan entrepreneurship, karena entrepreneurship memiliki nilai-nilai luhur untuk membangun dan mengatasi persoalan hidup yang sedang dan kita akan hadapi.
           Makalah ini bukan karya yang sempurna berangkat dari kami sendiri yang selaku masnusia yang tidak luput dari kesalahan karena kesempurnaan hanya milik Allah swt.Atas kekurangan, baik dalam hal isi maupun sistematika dan teknik penulisannya kami sebagai penulis sangat mengharapkan saran beserta kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.Terakhir semoga makalah ini biasa memberikan manfaat bagi para pembaca sekalian. Amin
                                                               
                                                                           
                                                                          Bandung, November 2011




                                                                                           Penulis



DAFTAR ISI


Contents





























 

BAB I

PENDAHULUAN


A.   Latar Belakang Masalah

Kebahagiaan merupakan tujuan hidup setiap orang. Dan orang islam meletakkan kebahagiaannya dalam bingkai keridhaan Allah Swt. Sebagai umat muslim harus yakin bahwa berusaha dan bekerja itu merupakan kewajiban dalam hidupnya, karena dalam bekerja terdapat tujuan mulia, manfaat dan hikmah yang banyak. Seorangmuslim hendaknya sadar terhadap persoalan dunia yang dihadapinya kini, hari esok, dan hari akhirat kelak.untuk itu perlu memahami kunci sukses menjalani kehidupan ini dengan berfikir cerdas, memilih jenis-jenis usaha yang diminati dan menguntungkan. Entrepreneurship memiliki nilai-nilai luhur untuk membangun dan mengatasi persoalan hidup yang sedang dan kita akan hadapi.
Memang tidak mudah dalam berwira-usaha, adapun hal-hal yang harus kita perhatikan dalam melakukan wirausaha yaitu dengan kita memikirkan kelemahan dari berwira-usaha yang kita lakukan. Bisa kita ketahui beberapa kelemahan dalam berwira-usaha, seperti perolehan pendapatan yang tidak pasti dan akan memikul beban resiko, bekerja keras dan waktu atau jam kerjanya panjang,kualitas kehidupannya masih rendah sampai usahanya berhasil dikarenakan dia harus berhemat, tanggung jawabnya sangat besar, banyak keputusan yang harus dia buat walaupun dia kurang menguasai permasalahan yang dihadapinya. Selain itu juga memang tidak sedikit pula dari keuntungan dalam berwira-usaha. Diantaranya terbuka peluang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki sendiri, terbuka peluah untuk mendemonstrasikan kemampuan serta potensi seseorang secara penuh, terbuka peluang untuk memperoleh manfaat dan keuntungan secara maksimal, terbuka peluang untuk membantu masyarakat dengan usaha-usaha konkrit, dan terbuka kesempatan untuk menjadi bos dalam wirausaha yang kita lakukan.
Setelah kita mengetahui beberapa dari kelemahan dan keuntungan dalam berwira-usaha, tentu saja ada upaya-upaya yang diperlukan atau modal awal untuk menjadi pengusaha. Seperti kita harus berani memulai yang artinya tidak perlu menunggu nanti, besok, atau lusa, berani menanggung resiko dan berani gagal yang artinya tidak perlu takut mengalami kerugian, setiap tindakan harus penuh dengan perhitungan, seorang entrepreneur harus mampu menyusun rencana sekarang dan kedepan sebagai pedoman dan alat kontrol baginya, tidak cepat puas dan putus asa, setiap tindakan harus selalu diiringi dengan sikap optimis dan penuh keyakinan, memiliki tanggung jawab serta memiliki etika dan moral sebagai benteng untuk berwira-usaha agar menjadi sukses.

B.   Rumusan Masalah

          Berdasarkan latar belakang masalah diatas, penulis merumuskan rumusan masalah sebagai berikut :
1)            Apatujuan berwira-usaha?
2)            Bagaimana hukum dalam berusaha?
3)            Bagaimana hikmah dalam berusaha?
4)            Bagaimana hakikat nilai kewirausahaan?
5)            Bagaimana etika dalam wirausaha?
6)            Bagaimana cara menjadi pengusaha yang sukses?
7)            Bagaimana ciri wirausahawan yang berhasil?
8)            Bagaimana pembagian rizki menurut islam?
                                                                                                                 

C.   Tujuan Penulisan Makalah

1)      Menjelaskan tujuan berwira-usaha.
2)      Menjelaskan bagaimana hukum dalam berusaha.
3)      Menjelaskan bagaimana hikmah dalam berusaha.
4)      Menjelaskan hakikat nilai kewirausahaan.
5)      Mengetahui etika dalam wirausaha.
6)      Mengetahui cara menjadi pengusaha yang sukses.
7)      Mengetahui ciri wirausahawan yang berhasil.
8)      Mengetahui pembagian rizki menurut islam



D.   Kegunaan Makalah

Makalah ini disusun dengan harapan memberikan manfaat dan kegunaan baik itu secara teoretis maupun secara praktis.Secara teoretis makalah ini berguna sebagai pengembangan konsep pengetahuan tentang pentingnya etos kerja dan entrepreneurship.

Secara praktis makalah ini diharapkan bermanfaat bagi:
a.       Penulis , sebagai wahana penambah pengetahuan dan konsep keilmuwan
b.      Pembaca, sebagai media informasi tentang konsep etos kerja dan entrepreneurship.

E.   Metode Pemikiran

          Makalah ini disusun dengan menggunakan pendekatan kualitatif.Metode yang digunakan adalah deskriftif. Melalui metode ini penulis akan menguraikan permasalahan yang dibahas secara jelas dan konferenshif. Data teoretis dalam makalah ini dikumpulkan dengan cara pustaka, artinya penulis mengambil data melalui kegiatan membaca berbagai literatur yang relevan denagn tema makalah. Data tersebut diolah dengan teknik analisis isi melalui kegiatan mengeksposisikan data serta mengaplikasikannya kedalam makalah.

F.    Sistematika Penulisan

1.      Latar Belakang Masalah
2.      Rumusan Masalah
3.      Tujuan Makalah
4.      Kegunaan Makalah
5.      Metode Pemikiran
6.      Sistematika Penulisan
7.      Kerangka Teori
8.      Pembahasan
9.      Kesimpulan
10.  Saran
11.  Daftar Pustaka






 

BAB II

KERANGKA TEORI

                                                                                     
A.    Pendahuluan
B.     Rizki Menurut Islam
1.      Sumber Rizki Menurut Islam
2.      Jalan Memperoleh Rizki
3.      Pembagian Rizki
C.     Perintah dan Hukum Berusaha
D.    Tujuan, Manfaat dan Hikmah Berusaha
1.    Membina Ketentraman dan Kebahagiaan
2.    Memenuhi Nafkah Keluarga
3.    Memenuhi Hajat Masyarakat
4.    Sarana Ibadah
5.    Shadaqah
6.    Menolak Kemungkaran
E.     Jenis-jenis Usaha
1.    Employee atau Karyawan
2.    Self Employee
3.    Business
4.    Investor
F.      Hakikat Nilai Kewirausahaan
G.    Meniti Jalan Entrepreneurship
H.    Etika Wirausaha





















 

BAB III

PEMBAHASAN



A.  Pendahuluan

Kebahagiaan merupakan tujuan hidup setiap orang. Dan orang islam meletakkan kebahagiaannya dalam bingkai keridhoan Allah swt.  Jika dalam perjalanan hidup kita dapat mencapai apa yang diinginkan sejalan dengan keridhoan Allah swt, maka kita sudah mendapat kebahagiaan. Dalam hidup di dunia ini banyak segi yang dibutuhkaan manusia, maka kebutuhan itu patut diraih, salah satunya berupa materi.
Allah Swt telah menyediakan bumi dan seisinya sebagai sumber kehidupan. Fungsi manusia di bumi ini untuk mengurus dan mengolahnya, karena ia sebagai “khalifatullah fi al-ardi”. Fungsi khalifah ini dalam rangka melaksanakan ibadah sebagai tugas utamanya, penghambaan kepasa Allah Swt, semata. Untuk itu, manusia harus menghayati bahwa Allah Maha pemberi dan sumber rizki, ia juga wajib berusaha untuk memperolehrizki, dan ia hendaklah mengetahui dan dapat memilih jalan terbaik untuk meniti jalan dalam memperoleh rizki.
Sebagai muslim harus yakin bahwa berusaha dan bekerja itu merupakan kewajiban dalam hidupnya, karena dalam bekerja terdapat tujuan mulia, manfaat dan hikmah yang banyak. Seorang muslim hendaknya melek terhadap persoalan dunia yang dihadapinya kini, hari esok, dan hari akhirat kelak. Untuk itu perlu memahami kunci sukses menjalani kehidupan ini dengan berfikir cerdas memilih jenis-jenis usaha yang diminati dan menguntungkan. Entrepreneurship memiliki nilai-nilai luhur untuk membangun dan mengatsi persoalan hidup yang sedang dan akan kita hadapi. Oleh karenanya penting untuk dihayati, dipahami langkah-langkahnya, diamalkan etikanya dan diraih keberhasilannya. Maha benar firman Allah
“barangsiaa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (Q.S. Hud [11]: 15)

 

B.      Rizki Menurut Islam

1.         Sumber rizki
Bumi, langit dan segala yang ada di dalamnya, demikian juga apa-apa yang trdapat di antara keduannya merupakan benda-benda yang diciptakan Allah SWT. Hal ini ditegaskan oleh firman –Nya yang antara lain :
“segala puji bagi Allah yang telah menjadikan dari tiada kepada ada, akan langit dan bumi” (Q.S Aj-Fathir [39] : 1)
Kalau kita telusuri kembali maka akan nyata kepada kita bahwa sumber rizki berasal dari Allah SWT Yang Maha Pemberi Rizki (ar-Razzaq).

2.         Jalan Memperoleh Rizki
            Ada  banyak jalan bagi seseorang untuk memperoleh rizki. Ada orang yang memperoleh rizki karena adanya warisan. Ada juga orang yang memperoleh rizki dari hadiah, pemberian orang, undian, berdagang, bertani, bekerja, berwirausaha dan lain-lain. Dari m acam-macam jlan untuk memperoleh rizki itu, semuanya dapat dikelompokan menjadi dua saja, yakni, pertama : pemberian pihak lain, dan kedua : berusaha dan bekerja.
Rizki dari pemberian orang lain , dapat terjadi karena hubungan ekeluargaan, perkawinan atau karena hubungan persahabatan. Pemberian yang timbul karena kekeluargaan dapat berupa warisan atau shadaqah, karena hubungan perkawinan dapat berupa nafkah, warisan atau hibah.
Bentuk yang kedua untuk memperoleh rizki adalah dengan cara bekerja dan berusaha untuk mengeksploitasi sumber-sumber alam dengan cara langsung berupa barang atau jasa. Keharusan bekerja dan berusaha ini ditunjukan oleh Allah sebagaimana difirmankan di dalam surat al-Mulik: 15.
Perintah “berjalan ke segala penjurunya” dan “bertebaranlah kamu di muka bumi”, adalah perintah untuk berusaha dan bekerja.
Dari ayat-ayat hadist di atas jelas bagu kita bahwa jalan yang utama untuk memperoleh rizki dari Allah adalah dengan bekerja dan berusaha.

3.         Pembagian Rizki
            Kerja dan usaha yang berbeda-beda akan menimbulkan pendapatan yang berbeda-beda bagi setiap orang. Jadi, Allah menbagikan rizki kepada umat manusia melalui hasil kerja dan usahanya masing-masing masing-masing, dan Allah-lah yang maha pemberi rizki.

C.  Perintah Dan Hukum Berusaha

            Sudah menjadi sunnatullah bahwa siapa yang rajin bekerja niscaya akan memperoleh hasil dari usahanya. Sebaliknya siapa yang malas, niscaya akan rugi dan tidak akan mendapatkan apa-apa.
Mencari dan menjemput rizki pun merupakan kewajiban bagi setiap umat islam, Rasulullah Saw, bersabda:
“sesungguhnya Allah telah mewajibkan kalian berusaha. Maka oleh sebab itu hendaklah kalian berusaha” (H.R. Thabarani)

D.  Tujuan, Manfaat Dan Hikmah Berusaha  

            Janji kita kepada Allah pada waktu shalat adalah “sesungguhnya shalatku. Ibadahku, hidupku, dan matiku hanya karena Allah”. Inilah sesungguhnya filosofi hidup seorang muslim, setiap usaha apapun tidak terlepas dari tujuan untuk memperoleh ridla Allah ta’ala. Demikian juga falsafah hidup pengusaha muslim yang beriman dan bertaqwa, baik seorang pegawai ataupun wirausahawan, mata hatinya selalu terarah kepada tujuan filosofis yang luhur.
Adapun manfaat hikmah berusaha, diantaranya sbagai berikut :
1.      Membina Ketentraman dan Kebahagiaan
Dengan usaha dapatlah dicapai keuntungan berupa upah, laba dan sebagainya. Hal ini yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti sandang, pangan, papan.  Kaum hartawan Apabila kebutuhan hidup (minimal kebutuhan primer) terpenuhi, maka diharapkan ketentraman dan ketenangan jiwa dapat pula dicapai.
2.      Memenuhi Nafkah Keluarga
Salah satu sisi kewajiban muslim ialah memberikan nafkah kepada keluarga, yang meliputi isteri, anak-anak dan tanggungan lainnya. Di dalam al-Quran dikemukakan :
“berbahagialah orang yang memperoleh rizki yang cukup dan qana’ dengan cara yang ma’. (QS. Al Baqaroh [2]: 233).
3.      Memenuhi Hajat Masyarakat
Dalam masyarakat terdaat “kegotong-royongan otomatis” yang seolah-olah dipaksakan oleh keadaan. Rela atau tidak rela kalau mau maju, harus hidup interdependen, tolong-menolong dengan sesama manusia.
4.      Sarana Ibadah
Di samping tujuan filosofis tersebut do atas, juga mempunyai tujuan ideal, yakni kekayaan yang diperolehnya itu akan digunakan sebagai sarana ibadah. Salah satu ibadah yang memerlukan biaya besar ialah naik haji ke Baitullah sebagai puncak pelaksanaan rukun Islam.
Demikian juga dalam melaksanakan zakat, zakat hanya dapat dilakukan jika ada kekayaan tertentu, yang dihasilkan melalui berbagai usaha. Maka sungguh beruntunglah umat islam yang dengan kekayaan yang dilompahkanAllah kepadanya, dapat menunaikan zakat setiap tahun.
5.      Shadaqah
Memberikan shadaqah atau memberikan sebagian harta kepada faqir miskin adalah kebajikan yang dituntut agama. Dalam alquran banyak ayat-ayat yang mendorong dan menggalakan kaum hartawan agar dapat  mengulurkan tangan kasih sayang kepada kaum duafa dan fuqara yang kondisi ekonominya amat lemah.
6.      Menolak Kemunkaran
Di antara tujuan ideal berusaha atau berbisnis adalah dapat menolak kemunkaran yang mungkin terjadi karena pengangguran dan kelaparan. Dengan bekerja an berusaha berarti menghilangkan salah satu sifat dan sikap yang buruk berupa kemalsan dan pengangguan.

E.  Jenis-Jenis Usaha

            Pada tahun 2002, Robert T. Kiosaki menemukan rumus Cash Flow Quadran. Pada intinya mengelompokan jenis usaha untuk mendapatkan kekayaan. Dari penelitian itu dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.    Employee atau Karyawan
Jenis usaha ini banyak sekali menggunakan karyawan baik dalam produksinya maupun dalam distribusinya. Karena karyawan banyak digunakan, maka karyawan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Menerima upah atau gajih, barter tenaga, waktu serta pikiran
b.      Mengejar karir berkompetensi/ bersaing dengan rekan-rekan kerjauntuk naik jabatan dan posisi yang diinginkan
c.       Untuk mengejar posisi yang diinginkan perlu waktu sekitar 10-20 tahun
Selain ciri-ciri diatas maka sebagai seorang karyawan tidak selalu baik, banyak resiko yang harus ditanggungnya. Salah satunya adalah jika perusahaan bangkrut, maka dia akan berhenti bekerja.
2.    Self Employee
Jenis usaha ini adalah usaha-usaha atau bekerja secara profesional yang bertumpu pada kemampuan sendiri, misalnya: Akuntan, Pengecara, Notaris, Dokter Spesialis, Artis, pengusaha yang tidak mempunyai sistem dll. Berusaha pada sektor ini dibutuhkan waktu yang lama untuk menjadi profesional, minimal 10-15 tahun.
Modal utamanya adalah belajar (pengetahuan luas) dan pengalaman. Jika sudah pengalaman maka akan mendapatkan gajih yang besar, namun tidak luput dari resiko. Resiko yang dihadapi sama dengan yang terdapat pada employee atau karyawan.

3.    Business
Jenis usaha ini adalah upaya membangun usaha dengan sistem, sistem yang akan bekerja untuk dirinya. Menjadi seorang pengusaha (businessman) tidak berada di tempat, melainkan sistem terus bekerja dan uang terus mengalir. Namun penghasilannya tidak terbatas, tergantung bisnisnya serta peluang bisnisnya, dapat melebihi rata-rata penghasilan karyawan atau pegawai, serta bisa bebas secara finansial. Bisnis ini resikonya relatif kecil, yaitu sesuai yang dikeluarkan sebagai investasi. Namun jika sudah BEP (break event poin=balik modal), resiko finansial menjadi minimal bahkan nol.

4.    Investor
Pada jenis usaha ini uang yang bekerja untuk anda sebagai investor, contohnya seperti deposito di bank, saham dll. Jenis usaha ini harus memiliki uang besar terlebih dahulu, dan untuk kerugiannya hampir sama dengan business.

Banyak orang berpendapat bahwa menjadi karyawan adalah hal yang paling mudah, banyak yang harus diperhatikan sebagai seorang karyawan yaitu:
a.       Meyakini bahwa diterima atau tidak di perusahaan karena kehendak Allah.
b.      Tidak putus asa untuk terus belajar, menambah pengalaman dan mencoba bila belum mendapat pekerjaan.
c.       Tidak memilih-milih pekerjaan karena gengsi. Bolehnya memilih-milih hanya dalam masalah halal, haram dan syubhat.

Mana yang lebih baik, karyawan atau pengusaha? Betapa banyak buku sekarang ini yang berbicara masalah ini. Kebanyakan buku tersebut memojok-mojokan orang-orang yang karyawan dan memuji-muji yang berwirausaha, bahwa kayawan adalah profesi orang-orang yang tidak sukses. Adapun yang paling tau sukses atau tidaknya orang hanyalah Allah, dan Allah tidak pernah membedakan pekerjaan baik seorang karyawan maupun wirausahawan. Allah berfirman:
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal, (Qs. Al-Hujurat:13)
Adapun tentang hakekat yang berkaitan dengan orang-orang yang sukses atau menang, Allah menegaskan dalam firmannya:
Dan barang siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (Qs.al-Ahzab:71)
Memahami ayat diatas, jelas sekali bahwa islam tidak membeda-bedakan karyawan atau bukan karyawan. Kita bisa melihat bahwa Rasulullah juga pernah menjadi karyawan sebelum menikah dengan Khodijah. Begitu juga engan para sahabat. Orang-orang yang menilai bahwa jenis usaha itu lebih baik dari jenis usaha lainnya, jika hanya memikirkan dunia saja. Memang banyak pengusaha yang hartanya banyak, tapi tidk sedikit pula yang utangnya menumpuk, pikirannya tidak pernah tenang karena selalu khawatir memikirkan usahanya, dan mungkin keluarganya kacau. Buat orang-orang muslim, yang paling utama adalah yakin bahwa apa yang Allah berikan saat ini kepada kita, itulah yang terbaik. Terbaik menurut Allah, walaupun kadang kita mengerti atau menurut kita tidak baik.

F.                  Hakikat Nilai Kewirausahaan

            Istilah kewirausahaan (entrepreneur) telah diperkenalkan dalam perekonomiannya oleh Cantillon tahun 1755 dan dikembangkan oleh seorang ahli ekonomi Prancis J.B. Say sekitar tahun 1800-an. Entrepreneur diprgunakan untuk menggambarka seseorang yang mengubah sumber-sumber ekonomi yang bernilai rendah ke yang memiliki produktivitas yang lebih tinggidan hasil yang lebih besar (Barror, 1993:15).entrepreneur sering disamakan dengan nilai kewiraswastaan dan kewirausahaan.
            Wiraswasta jika dicari asal katanya, wira berarti utama, gagah, luhur, teladan, atau pejuang; swa berarti sendiri; sta berarti berdiri. Wiraswasta atau wirausaha berarti pejuang yang gagah, berani, hebat dan pantas menjadi teladan dalam bidang usaha karena ia mampu berdiri sendiri diatas kemampuan sendiri.
            Bagi ahli ekonomi, wirausaha adalah seseorang yang mengorganisasikan sumber-sumber, tenaga kerja, material,dan aset sehingga dapat mengintroduksi perubahan,
inoinovasi, dan tatanan baru dengan tujuan mendapatkan nilai tambah. Dalam ahli psikologi wirausahawan berarti orang yang didorong untuk memenuhi kebutuhan tertentu dengan memperoleh suatu hasil, bahkan untuk lari dari kekuasaan orang lain. Ada dua pandangan tentang wirausaha yaitu; pertama wirausaha dipandang sebagai profesi pada dunia usaha di bidang bisnis, kedua wirausaha dipandang sebagai sikap mental, ciri pribadi, atau nilai-nilai yang dapat dimiliki oleh siapapun.

 

H.  Meniti Jalan Entrepreneurship

            Dari hasil penelitian, menunjukan bahwa orientasi mahasiswa setelah lulus kebanyakan untuk mencari kerja, menggantungkan diri pada pekerjaan yang sudah ada, bukan menciptakan lapangan kerja. Rupanya cita-cita seperti seperti ini sudah berlangsung lama terutama di indonesia dengan berbagai sebab. Jadi tidak mengherankan bahwa setiap tahunnya pengangguran terus bertambah. Sementara itu, pertumbuhan lapangan kerja sempit.
            Dalam berwirausaha banyak keuntungan-keuntungan dalam berwirausaha yaitu:
1.      Terbuka peluang untuk memperoleh manfaat dan keuntungan secara maksimal.
2.      Terbuka peluang untuk mendemontrasikan kemampuan serta potensi seseorang secara penuh.
3.      Terbuka peluang untuk memperoleh manfaat dan keuntungan secara maksimal.
4.      Terbuka peluang untuk membantu masyarakat dengan usaha-usaha konkret.
5.      Terbuka kesempatan untuk menjadi bos.
Adapun kelemahan-kelemahannya sebagai berikut:
1.      Memperoleh pendapat yang tidak pasti, dan memikul berbagai resiko
2.      Bekerja keras dan waktu/jam kerjanya panjang
3.      Kualitas kehidupannya masih rendah sampai usahnya berhasil, sebab dia harus berhemat
4.      Tanggung jawabnya sangat besar, banyak keputusan yang harus dia buat walaupun dia kurang menguasai permasalahan yang dihadapinya

Berikut beberapa jurus awal yang diperlukan sebagai modal awal untuk menjadi pengusaha:
1.      Berani memulai
2.      Berani menanggung resiko, berani gagal, artinya tidak perlu takut mengalami kerugian
3.      Setiap tindakan yang dilakukan penuh perhitungan dan pertimbangan yang matang
4.      Seorang entrepreneur harus mampu menyusun suatu rencana sekarang dan kedepan sebagai pedoman dan alat kontrol baginya
5.      Tidak cepat puas dan putus asa
6.      Setiap tindakan harus selalu diiringi dengan sikap optimis dan penuh keyakinan karena ini merupakan motivasi untuk melangkah maju
7.      Memiliki tanggung jawab
8.      Memiliki etika dan moral sebagai benteng untuk berwirausaha agar menjadi sukses

H.  Etika Wirausaha

            Yang dimaksud etika wirausaha disini adalah semangat, sikap, prilaku  dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan, menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.
Seorang wirausahawan selalu berpikir untuk mencari peluang, memanfaatkan peluang, serta menciptakan peluang usaha yang dapat memberikan keuntungan. Selain itu seorang wirausahawan harus memiliki etika yang perlu diperhatikan sebagai berikut:
1.      Sikap dan prilaku
2.      Penampilan
3.      Cara berpakaian
4.      Cara berbicara
5.      Dll.
Sikap dan prilaku yang dijalankan oleh pengusaha dan seluruh karyawan sesuain dengan etika wirausaha adalah:
1.      Jujur dalam bertindak dan bersikap
2.      Rajin, tepat waktu, dan tidak pemalas
3.      Selalu murah senyum
4.      Lemah lembut dan ramah tamah
5.      Sopan santun dan hormat
6.      Selalu ceria dan pandai brgaul
7.      Fleksibel dan memiliki rasa tanggung jawab
8.      Serius dan suka menolong pelanggan
9.      Rasa memiliki perusahaan yang tinggi
Beberapa ciri yang dikataka berhasil: a) memiliki visi dan tujuan yang jelas, b) berinisiatif dan proaktif, c) berorientasi pada prestasi, d) berani mengambil resiko, e) bekerja keras dan cerdas, f) bertanggung jawab, g) komitmen pada janji, dan h) mengembangkan serta memelihara hubungan baik dengan berbagai pihak.











BAB IV

PENUTUP


A. Kesimpulan

Sebagai umat muslim kita harus yakin bahwa berusaha dan bekerja itu merupakan kewajiban dalam hidup, karena dalam bekerja terdapat tujuan yang mulia, memiliki manfaat dan hikmah yang banyak. Seorangmuslim hendaknya sadar terhadap persoalan dunia yang dihadapinya kini, hari esok, dan hari akhirat kelak. Untuk itu perlu memahami kunci sukses menjalani kehidupan ini dengan berfikir cerdas, memilih jenis-jenis usaha yang diminati dan menguntungkan.Salah satunya dengan entrepreneurship, karena entrepreneurship  memiliki nilai-nilai luhur untuk membangun dan mengatasi persoalan hidup yang sedang dan kita akan hadapi.

B.      Saran

Diharapkan dengan dibuatnya makalah ini, pembaca dapat lebih mengerti dan memahami tentang etos kerja dan entrepreneurship agar dapat membangun dan mengatasi persoalan hidup yang sedang dan akan kita hadapi.










Daftar Pustaka

Tim dosen pendidikan agama islam Universitas Pendidikan Indonesia. 2011. Islam tuntunan dan pedoman hidup, Bandung:  Value Press Bandung.

1 komentar:

  1. gan..punten ya sy ikut ambil materi makalahmu kbtln sama hehehe

    BalasHapus